Tampilkan postingan dengan label Kang Aje. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kang Aje. Tampilkan semua postingan

Kang Aje Ngaji Karo Gus Yahya Soal Pengetahuan

Kang Aje Ngaji Karo Gus Yahya Staquf Soal Pengetahuan
Kang Aje - Sore hari menjelang surup (Mahgrib) kang Aje leyeh-leyeh di pelataran mushola sambil tangan kanan pegang android jadul versi Cupcake yang sudah gak kompalitibel sama aplikasi terbaru. Tangan kiri pegang rokok kretek lintingan sendiri.

Kang Aje buka browser trus buka facebook, Kang Aje lumayan aktif sebagai warganet akhir-akhir ini sebab melihat gegere dunia maya yang bathil jadi haq yang haq malah jadi bathil. Nah kang Aje tidak mau kalah update sama murid-murid ngajinya yang sudah nenteng ngalor ngidul android versi Marshmallow. Kang Aje mulai nyecrol update status naik turun, nonton status orang-orang soal dek Raisa usai akad bareng Hamish Daud yang waktu akad nikah begitu sederhana dan bersahaja pakaiannya.

Nah sampai status salah seorang kiai yang cukup dikagumi kang Aje, yaitu KH. Yahya Cholil Staquf. Gus Yahya kebanyakan orang memanggilnya pada siang tadi mengunggah status yang cukup ngampleng, rasane kok ya cocok sama keadaan saat ini. Berikut status lengkapnya:

Telah kuajarkan padamu kitab-kitab itu. Qur'an dan tafsirnya. Hadits dan syarahnya. Fiqih dan ushulnya. Berbagai hal tentang agamamu telah kau ketahui.

Sekarang camkan ini sungguh-sungguh: semua itu adalah pengetahuan. Sebagai bekalmu untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah manusia. Untuk kemaslahatan manusia. Itulah tujuan Tuhan mewahyukan agama ini. Maka jangan kau jadikan jerat untuk menyerimpung langkah. Tuhan tidak butuh disembah ataupun ditaati. Buat apa Dia mempersulit hidup makhluk-makhluk yang Dia ciptakan sendiri?

Pengetahuan itu untuk kau cerna dan kau olah dengan kecerdasan karunia Tuhanmu. Kau adu dengan kenyataan-kenyataan hidup pada dirimu dan sekitarmu. Siapa tahu menerbitkan kesimpulan-kesimpulan dan pengetahuan-pengetahuan baru.

Yang telah kau serap dari kitab-kitab yang telah kuajarkan kepadamu itu bukanlah mandat dari Tuhan bagimu untuk memaksa orang lain mengikutinya. Kamu bukan nabi dan pemahamanmu atas pengetahuan-pengetahuan itu bukan wahyu. Kamu menanggungkan pengetahuan-pengetahuan itu sehingga kamu bergelut dengan diri sendiri dalam ikhtiarmu untuk senantiasa berada dalam tingkah shalih dan 'adil, tidak thalih dan dhalim.

Itu bukan pergulatan yang mudah dan ringan. Maka bersabarlah dengan bebanmu. Dan berserah dirilah kepada Tuhanmu. Karena, atas dasar itu nantinya Dia akan menghisabmu.
sumber : Status Gus Yahya
"Lha iya kok pas banget..!!!" batin Kang Aje sambil menyedot rokok kretek dan kebulkan ke atas sambil melihat awan yang mulai terlihat semburat warna orange gelap. Dalam telaahnya, sekarang banyak sekali (karena lebih dari tiga alias jamak) orang-orang menggunakan pengetahuan agamanya untuk "menghajar" sesama muslim hanya untuk kepentingan ini itu, lebih-lebih untuk kepentingan politik kekuasaan.

Sebenarnya banyak diketahui saat ini ustadz-ustadz yang sungguh percaya diri didepan kamera dan di upload ke Youtube suka menyalahkan golongan ini itu, membid'ahkan ibadah si anu, mensyirikkan si anu. Lha kok gak berdakwah yang baik-baik. Menjaga lisan untuk tidak "ngrasani" jelek. Layaknya yang paling paham ilmu agama saja.

Grundelnya kang Aje berhenti setelah adzan mahgrib dan para jamaah mulai berangsur-angsur datang, lha kok ya pas rokok lintingan tembakau temanggung pas sudah tinggal satu hisapan. Sambil menghisap yang terakhir kalinya, disembulkan asap ke udara sambil melafadzkan Allah...... As-Shalatu Jami’ah.

Kang Aje Ketemu Cewek Nang Bus

Kang Aje Ketemu Cewek Nang Bus
Dalam bus yang masih ngetem menunggu penumpang, pelan terdengar lagu-lagu Iwan Fals mengalun penuh keakraban dan perjuangan dari sound ala kadarnya bus antar kota antar provinsi Indonesia.

"Masih kosong, Mas ?" tanya perempuan muda menunjuk bangku di samping Kang Aje. Penampilannya sederhana, celana jeans dan baju lengan panjang hitam dan rambut berkelebat tak berkerudung.

"O kosong, Mbak." Kang Aje tidak memedulikan perempuan itu, dia sedang malas ngobrol. Perempuan itu mengeluarkan sebuah buku dari tas. Kang Aje melirik, "Sejuta hati untuk Gus Dur".
"Buku apik." pikirnya.
Dengan sudut matanya dia membaca penulis buku itu.
"Wah, buku Damien Dematra" batin kang Aje.
Salah satu karyanya berjudul "Ternyata Aku Sudah Islam" sebuah novel yang terinspirasi kisah nyata grup musik DEBU.
Bus mulai melaju tenang. Kang Aje belum berani bertanya atau menyapa perempuan di sampingnya yang nampak bibirnya tak bergincu itu. Sesudah agak lama akhirnya dia mencoba menyapa, berbekal rasa penasaran dengan buku yang ditulis oleh novelis yang juga pelukis dan jago nulis skenario itu.

"Mbak, saya ingin mengganggu," kata kang Aje tanpa basa-basi. Perempuan itu melirik dengan sudut matanya yang sekilas menajam. Tampaknya kang Aje salah sapaan.
"Ada gitu manusia yang ingin di ganggu?". Dia kaget mendengar jawaban si Mbak. tapi dia tipe orang yang bisa ngomong dengan siapa pun.
"Ada Mbak, kalau sebuah gangguan dari orang lain yang memang diinginkannya," katanya lancar sekali dengan niat mencairkan suasana dengan bumbu guyon. "Itu sebuah keinginan."
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Mbak!" tambahnya lagi.
"Hebat. Tapi awas, jangan sampai menyalahkan orang lain" timpal perempuan itu.
"Wah tidak, Mbak. Itu tidak adil".
"Katamu tidak ada yang yang tidak mungkin. Kalau kamu menyalahkan dirimu sendiri, itu juga tidak mungkin kan? Kamu mengharap digangggu orang tidak?" kata perempuan itu kembali tertunduk pada bukunya.
"Asemm.... Perempuan jutek," pikir Kang Aje, kecewa sapaannya tidak mendapat sambutan hangat. Kemudian hening, sayup-sayup suara lagu Iwan Fals berjudul "Kemesraan" mengalun. Mereka terdiam. Kang Aje sibuk dengan lamunannya dan si perempuan sibuk dengan bukunya.

Habis lagu iwan Fals, perempuan nampak jenuh dengan bacaannya. "Mau ke mana?" tanyanya. "Sudah tahu bus ini jurusan Semarang kan?" jawab kang Aje. Tidak ada satu helaan nafas, perempuan itu cepat menimpali.
"Kalau kamu di tanya mau ke mana, kamu akan menjawab ke depan?, ada juga yang melangkah mundur. Itu namanya kebodohan kalau dalam hidup" ungkapnya.
"Mbak, omongan sampean sok pintar sekali," Saut Kang Aje sambil menghadapkan badannya ke arah perempuan sejak awal nampak aneh itu.

Kang Aje cukup gregeten mendengar kata-kata si perempuan yang dari tadi belum juga tersenyum padanya. "Lebih baik sok pintar dari pada pintar itu sendiri. Orang yang sok pintar tidak tahu makna, tetapi orang pintar akan kebingungan dalam makna." Lanjut perempuan itu sembari menutup buku.

Aje terdiam sejenak, "Saya pusing dengarnya, Mbak..!!!"
"Berarti kamu orang pintar" sahut perempuan.
Seketika Kang Aje krekut-krekut dan sekaligus menyusun balasan "Mbak omongan sampean kok athos Mbak" pungkas Kang Aje.
Tapi apalah daya, baru saja Kang Aje mengucapkan kata (Mbak....) si perempuan itu nampak membereskan buku dan memasukkannya dalam tas berkemas akan turun dari bus.

Dengan penuh gaya kelaki-lakiannya Kang Aje burusaha ramah dan melempar senyum termanisnya.
"Monggo Mas Asssalmamu'alaikum," spontan ma' nyes treceb-treceb,
Kang Aje pun membalas "Alaikissalaam we er we be Embak......"

Perempuan turun, Kang Aje senyam-senyum.dan berpisah.

Kang Aje Mandek Gitaran

Kang Aje Mandek Gitaran
"Kenapa kita harus saling mendo'akan?" seperti biasa, Kang Aje memulai percakapan ketika bolo-bolonya diam. Lelaki yang pernah mempunyai hobi main gitar namun mandek seketika setelah kepergok oleh salah satu kiai yang dihormatinya.

Satu waktu pada saat main gitar di pinggir pertigaan jalan bersama teman kampung sekitar tempat dia mondok, dengan nada lirih singkat kiai tersebut berkata "Je, sekali lagi aku melihat kamu gitaran, tak potong tanganmu." Aje hanya diam tertunduk, dalam hatinya berkata sekaligus menjawab "enjih Pak, pangapunten", Pak Kiai meneruskan jalan, Kang Aje meneruskan gitar-gitaran, namun kali ini yang main gitar adalah temannya sedangkan dia mengambil bagian menyanyi dan tangannya sambil memukul pelan-pelan ceret amoh sebagai pelengkap akustikan malam itu.

Mereka masih sibuk dengan diamnya masing-masing. Tapi, setidaknya, Topa dan Adit terpancing."Karena hubungan manusia tak mungkin bisa diselesaikan dengan saling membayar duit", Topa lirih menjawab.

"Wah, berat."
"Betul!" Adit si penggemar Siti Nur Haliza itu menyahut. Lanjutnya, "Kalau kita membayar tukang becak, bayaran itu sebenarnya cuma untuk mengganti waktu, pikiran dan tenaganya. Ketulusannya ya akan terbayar."

"Siapa bilang tukang becak itu tulus?" Kang Aje kembali menyahut percakapan yang sedikit mulai panas sepanas kepala kang Aje yang mikir utang kopi di warung mbok Siti belakang pondok.

"Betul. Bagi dia kan yang penting kerja mencari uang. Dia tidak tulus padaku. Apakah setelah aku naik becaknya nanti aku dapat jodoh atau tidak, dia enggak punya urusan" Kang Aje menyudahi kalimatnya yang sidikit berbau curhat sambil menyedot rokok pemberian dari Mbak pondok putri atas dibuatkannya materi teks pidato bahasa arab untuk acara muwadda'ah akhir sanah.

Henpon Kang Aje berdering, dilihatya sms masuk dari nomor Pak Kiai, "Je, saya tunggu di rumah, sekarang."

Dengan sedikit gusar, Kang Aje pun membalas "'Alaikumussalam Wr. Wb. Pak, enjih", hatinya mulai dag-dig-dug tidak karuan, segera dia pamit dari majelis njagong dan menyetater motor menuju rumah Pak Kiai. Akustikan ala kadarnya pun bubar dan meneruskan kegiatan masing-masing.

Kang Aje : Wanita Dilarang Tampil

Kang Aje : Wanita Dilarang Tampil
Karena Kang Aje diketahui orang terkadang terlibat melatarbelakangi penciptaan dan pementasan karya-karya seni semisal gambus, qosidah dan seni hadroh, bahkan musik modern dan teater. Kang Aje suatu ketika mendapat pertanyaan, "apakah wanita Muslimah diperbolehkan untuk tampil di panggung?".

Dari gerombolan ke gerombolan, ada berbagai "tahap" jawaban Kang Aje. Namun akhir-akhir ini ia menjawab, "Saya setuju sepenuhnya bahwa wanita dilarang tampil di panggung atau pokoknya di muka umum!".

Para penganut "wanita dilarang tampil" tentu saja senang mendengar pernyataan Kang Aje. Namun para penganut "wanita boleh tampil" jadi krekut-krekut.

"Apa maksudnya ? mereka bertanya.
"Ya pokonya tidak boleh tampil". Jawab Kang Aje (sok) tegas.
"Gak boleh naik panggung?"
"Gak boleh!"
"Tilawah? Pentas hadroh? Main drama? Baca sajak?"
"Gak boleh...!!!"
"Pidato ceramah?"
"Gak boleh!"
"Lho! bagaimana ini! Bagaimana kalau di jalan-jalan keluar rumah? Itu kan, namanya tampil juga di depan umum! Jalan raya kan juga berfungsi seperti panggung?"
"Ya! Wanita tidak boleh tampil!"
"Kalau begitu, taruh saja kaum wanita di dalam almari atau kulkas atau bungkus saja dalam karung!"
"Lho, kenapa harus begitu?" Kang Aje ganti bertanya.
"Katanya tidak boleh tampil ...?

Kang Aje tertawa. "Yang namanya wanita tampil" itu adalah urusan manusia yang menampilkan kewanitaannya, "katanya".

"Kalau Mbah Nyai Rahma berpidato, yang tampil adalah seorang Muballighoh, Mbah Nyai menampilkan kepimpinannya, intelelektualitasnya, prestasinya, fungsi sosialnya dan bukan kewanitaannya. Jadi, maksud saya "wanita dilarang tampil" ialah dalam konteks bahwa seseorang manusia yang kebetulan berjenis wanita itu tidak boleh menonjolkan benda-benda atau unsur-unsur kewanitaannya, entah melalui bukak sitik jos, sensualitas, mencab-menceb nglenggak-lenggok merangsang atau bentuk ekspresi kewanitaan apapun. Paham..!!!

Kang Aje : Biaya Resepsi Ora Murah

Kang Aje : Biaya Resepsi Ora Murah
Kang Aje - Awak nggreges lantaran sedino muput warwer-warwer ra leren blas kethiplas ugo pikiran buthek lemes mergo unjel-unjelan perkoro mbereng ndengah.

Wayah sandek olo seng lumrahe wong podo resik-resik awak ce'e katon seger sumringah Kang Aje sengojo epleh-epleh mblojet kedal-kedul rokokan sinambi ongan-angen opo ae sing kecandak pengangen-angen, durung ngasi keserot entek Kang Aje njarak mateni rokok mergo wis banget sliyat-sliyut mripate ugo ongap-angope tan soyo ombu ngluwehi mangape santri yanbu' sinau makhroj hamzah di fathah, let ora suwe sak durunge adzan maghrib keturulah Kang Aje angkler tutuk jam tengah wengi, tangi jenggerat gragaban lantaran diloncati sepasang kucing bledakan sing meyang-meyonge bantere nyumplengi sak erte (jarene : polahe kucing sing koyo mengkono iku ngalamat ape kawen).

Gayang-grayang nyandak botol banyu ngombe Kang Aje ngglogok sak akih-akihe, sak wuse ngombe Kang Aje thelek-thelek nyambi driji tangane nutal-nutul pojok mripat nggolek blobok ugo sethel, engdalem turune Kang Aje di ngipeni sijine wong wadon sing intine di weling "udude di sudo a,iling... biaya resepsi ora murah!", mergo iku wadon sosok sing mambu rodok istimincrit mungguhe Kang Aje, kanti gumrigahe ati ugo tekad setengah nekat sekolo iku ugo Kang Aje nduwe uni kanggo awake : " aku ora ape ngrokok neh ".

Mergo iling nak mau durung sembahyang maghrib Kang Aje cekat-ceket moro jeding siben wudlu terus nyandak sarung ganti kaos tanpo nganggo kethu, mahgrib sak ngisya'e wis beres, uma'-umi' sak cukupe diterusno dungo sedelok, ono ing dungo pikiran Kang Aje ora luput seko klebatan sosok wadon sing na ngipine, tanpo basa-basi nang pengeran Kang Aje molai moco dungo koyo umume kawitan dungo banjur mbolan-mbaleni "jodho Gusti jodho" wal hamdu lillaahi robbil 'alamiin.

Rong ndino setengah wengi Kang Aje babar pisan ra udud babar pisan mung iso klomat-klamut saben sak wuse mangan ijtihad ngempet tur ngomitmeni unine. Ndilalah setengah wengi lan sak teruse lha kok ono ae wewehan rokok seko wong-wong sing podo methuki, genep patang bungkus numpuk, pikirane Kang Aje molai othak-athik "iki tak wehno wong opo tak ijolno sabon ? tak ijolno sabon opo tak wehno wong? diwehno wong mboeman, diijolno sabon lha kok keplaor men.

Akhire karo-karone ora kelakon, njur Kang Aje nyandak siji bungkus disuwek plastike dijabot isine disumet pucuke disedot sak akih-akihe dikedulno keluke njur cangkeme ngucap : "Sepurane Yu.... ra kuat kecuten, biaya resepsi urusan mburi. alfatehah!!!